NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Regional

Toili 1964: Karung Goni Jadi Celana

Rabu, 13 /04/ 2016 13:06:35 25080 Pembaca  

Imigran yang baru tiba di Sungai Mapilli, Mandar. Foto ini disalin dari Situs Web Tropen Museum Belanda (Pemotretan sekitar Tahun 1937). Diambil dari situs http://kampung-mandar.web.id (diakses tgl 11 Desember 2013 jam 10.50)
Imigran yang baru tiba di Sungai Mapilli, Mandar. Foto ini disalin dari Situs Web Tropen Museum Belanda (Pemotretan sekitar Tahun 1937). Diambil dari situs http://kampung-mandar.web.id (diakses tgl 11 Desember 2013 jam 10.50)

TRANSS, Banggai - Jangan pikir jaman itu kami menggunakan sensor, kapak dan gergaji tarik adalah alat tebang membuka lahan. Tutur Sukardi mengisahkan Toili di Tahun 1964.

“Tidak sedikit dari kami mengenakan celana berbahan karung goni yang di jahit. Tak ada pakaian untuk bekerja apalagi buat kondangan,” Sukardi atau mbah kardi mengisahkan.

Tahun tahun penuh kesulitan itu di lewati dengan ikhlas, tak ada kata menyerah untuk kembali ke jawa yang sedang dilanda kelaparan, juga pecahnya Gerakan : 30.S-PKI 1965.

Toili kala itu masih menjadi bagian administratif kecamatan Batui, “ Susahnya kalau ke batui mesti naik perahu layar. Satu atau dua hari baru bisa sampai kesana (batui), semua tergantung angin.” Kenang Mbah Kardi

Berbeda jauh dengan Toili saat ini, yang bahkan sudah mekar menjadi tiga kecamatan. Kala itu hanya keuletan menjadi modal mempertahankan hidup di bawah garis kemiskinan.

Pembagian ¼ lahan pekarangan  dan 1 Ha lahan sawah tidak terpikir untuk di jual. Semua digarap dan di manfaatkan. Hingga akhirnya Toili menjadi lumbung padi di Banggai.

[Irfan Monoarfa]

BACA JUGA :Toili 1964: Mengejar Ilalang di Kira Padi Menguning

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan