NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Regional

Batui Punya Peluang Dirikan Museum Spesifik

Senin, 23 /05/ 2016 00:39:59 10413 Pembaca  

Pengantaran telur maleo. Foto: Konawe Institut Banggai
Pengantaran telur maleo. Foto: Konawe Institut Banggai

TRANSS, Banggai - Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah adalah satu satunya wilayah yang berpeluang mendirikan museum spesifik  yakni "Museum Maleo."

Hal ini diungkapkan Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Banggai, Iswanto Sandagang. Menurut Iswanto alasan pendirian museum spesifikasi Maleo harus berada di Batui, hal itu Karena serangkaian kegiatan atau upacara perayaan tradisi adat masih rutin dilakukan oleh warga adat setempat, sekalipun sudah ratusan tahun terakhir.

“ Batui tepat untuk bisa didirikan museum spesifikasi, yakni Museum maleo,karena sampai saat ini dari upacara hingga karnafal pengantaran telur burung Maleo masih dilakukan” ungkap Iswanto kepada transsulawesi.com

Proses adat "Tumpe" sendiri adalah pengantaran telur burung Maleo ke Banggai Laut, dan  hal ini dilakukan sejak zaman Banggai (Benggawi) dimana saat itu masih bagian otoritas kerajaan. Sehingga kata Iswanto, hal tersebut harus tetap di pelihara sebagai khazanah kekayaan budaya di Indonesia.

“Tapi untuk lebih mempertahankan tradisi sekaligus menjaga literature, maka museum spesifikasi Maleo ini adalah cara nyata memberikan informasi kepada anak cucu kita agar mengetahui kekayaan budaya kita.

Dalam acara pengantaran tumpe, menjadi keunikan tersendiri ketika prosesi arak-arakan telur ini menuju dermaga, tidak boleh ada bunyi-bunyian dan tidak boleh ada yang secara sengaja memotong arak-arakan ini dari depan, konon kata Tetua Adat disana akan berakibat kurang baik kepada orang tersebut.

Prosesi ini bermula, ketika Banggai masih dengan sistem kerajaan absolut 1525-1545, Adi Cokro lelaki Jawa yang berlayar ke Banggai diangkat menjadi raja. Lantas Adi Cokro yang oleh orang Banggai dikenal Adi Soko menikahi putri dari Raja Matindok di Batui.

Nama putri itu adalah Nurusapa. Karena perangai Adi Soko yang baik, Raja Matindok menyayanginya dan memberinya hadiah sepasang burung maleo. Dari Nurusapa, Adi Soko memperoleh seorang putera yang bernama Abu Kasim.

Suatu ketika Adi Soko kembali ke Kediri. Sepeninggal Adi Soko kerajaan Banggai goyah, seperti rumah yang ditinggali seorang bapak. Singkat sejarah, setelah dewasa Abu Kasim berangkat ke Jawa mencari ayahnya, karena ketika itu Abu Kasim diharapkan menjadi raja sementara dirinya tak siap.

Kembali dari Jawa, Abu Kasim membawa pulang sepasang burung maleo, pemberian dari Adi Soko. Mulanya burung maleo dikembangbiakkan di Banggai, tapi pesisir di Banggai tak begitu lebar, maka burung maleo dikembangbiakkan di Batui, dengan catatan jika burung maleo bertelur, kerabat kerajaan yang ada di Banggai Kepulauan dikirimi telur-telur maleo.

Pengiriman telur ke kerajaan Banggai di Banggai Kepulauan inilah yang dikenal dengan adat tumpe’. Setiap tahun adat tumpe’ ini dihelat di Batui. Batui sebagai daerah pengantar telur maleo dan Banggai Laut sebagai daerah penerima telur maleo. [Irf]

 

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan