NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

News Maker

Ary Fadly: Penggusuran Bangunan Kafe Km 5 Adalah Pembunuhan Ruang Ekonomi

Jum'at, 15 /07/ 2016 07:19:38 8298 Pembaca  

Puing puing bangunan yang digusur Satpol PP diatas lahan perorangan oleh Ary Fadly termasuk pelanggaran HAM Berat.
Puing puing bangunan yang digusur Satpol PP diatas lahan perorangan oleh Ary Fadly termasuk pelanggaran HAM Berat.

LUWUK - Aktivis dan pengamat hukum perkotaan, Ari Fadly mengatakan negara Indonesia mengakui berbagai hak kepemilikan tanah seseorang, mulai hak girik hingga hak milik. "Tidak berarti hanya hak milik yang diakui. Semua diakui dengan nilai yang berbeda," ucap Fadly di Luwuk, Kamis, 14 Juli 2016.

Hal tersebut ia lontarkan untuk mengkritik penggusuran 24 bangunan kafe yang berakhir tanpa solusi bagi pemilik bangunan. Penggusuran dilakukan pemerintah setempat di sepanjang kilometer 5 Luwuk, Banggai Sulawesi Tengah.

Menurutnya, Gaya pemerintah yang ingin membangun kota tapi melupakan hak warga yang telah lama tinggal di suatu tempat adalah pelanggaran hak asasi manusia, karena hal tersebut menyangkut hajat hidup perorangan. Tambah dia, saat warga menempati suatu lahan dalam waktu yang lama, dia mempunyai hak menerima ganti rugi yang setimpal, terlebih jika warga tetap memenuhi kewajibannya dalam membayar retribusi dan pajak bagi pemilik lahan.

"Bahkan tanah negara yang ditempati orang-orang yang tidak memiliki hak apa pun, tidak pernah bayar pajak, dan sebagainya kalau mau digusur harus meminta izin kepada pengadilan untuk membuktikan bahwa pemerintah membutuhkan tanah tersebut, apalagi seperti di Km 5 yang sudah dipastikan bahwa seluruh bangunan berdiri bukan diatas tanah pemerintah " ucap Fadly.

Menurut Fadly, penggusuran yang dilakukan benar-benar menyalahi prosedur. Artinya, penggusuran dilakukan pada bangunan sama dengan membunuh ruang ekonomi, silahkan ditertibkan jika ada yang salah pada aktivitas mereka, bukan bangunan milik orang yang harus dirusak.

Selain itu, Fadly menilai segala bentuk penggusuran merupakan upaya memiskinkan warga, meskipun muncul iming-iming untuk tujuan yang lebih baik.

(BACA JUGA : Soal Kebijakan KM 5, Lurah Maahas di Nilai terlampau Agresif )


"Kata-kata lebih baik itu kan tidak jelas. Bukan bangunannya yang lebih bagus, melainkan fungsi bangunan sebagai modal mata pencaharian, itu harus dipertimbangkan. Oke hari ini, itu kafe atau dianggap apalah, namun besok anda bisa tertibkan jadi warung kopi kenapa Nggak," tutur Ari Fadly

Ia juga menilai setiap bangunan yang didirikan warga merupakan tabungan seumur hidup yang dibangun dengan jerih payah, meskipun bangunan tersebut kumuh dan reot. Menurut dia, menghancurkan begitu saja sama dengan menghancurkan aset individu dan aset sosial yang pernah terbentuk.

"Bangunan yang digusur itu adalah tabungan seumur hidup lho. Meskipun jelek, mereka membangunnya dengan uang sendiri. Orang berdagang di situ, memiliki hubungan sosial di situ. Alternatifnya, kalau itu dibilang kumuh atau melanggar norma, ya seharusnya diperbaiki dan ditertibkan toh," tutur Fadly.

SF/Ab

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan