NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Regional

Pemuda Muhamadiyah Banggai turun tangan dampingi Warga Tanjung

Selasa, 30 /01/ 2018 11:18:42 8259 Pembaca  

Bocah tanjung pasca eksekusi tahap satu 3 Mei 2017
Bocah tanjung pasca eksekusi tahap satu 3 Mei 2017

Transsulawesi.com, Luwuk - Ketua Bidang Hukum dan Advokasi Pemuda Muhamadiyah Kabupaten Banggai, Iskandar Ismail SH, berencana melakukan pendampingan terhadap masyarakat yang menjadi korban penggusuran dalam eksekusi lahan sengketa di Tanjungsari, Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk.

Hal itu dilakukan menyusul upaya dari Pengadilan Negeri Luwuk yang akan kembali melakukan eksekusi lanjutan, setelah eksekusi pertama pada 3 Mei 2017 belum selesai karena masih menyisakan lahan yang belum tergusur. Yang menjadi keberatan dari Pemuda Muhamadiyah adalah lepas tangannya pemerintah daerah dalam menanggapi kondisi sosial warga.

“Karena ada kesan pembiaran sehingga kami berpikir perlu mengadvokasi masyarakat Tanjung yang menjadi korban,” kata Ismail, Luwuk, Senin, 29 Januari 2018.

Menurutnya, akibat dari eksekusi itu telah memberikan dampak buruk bagi kelangsungan hidup masyarakat tanjung, dimana mereka telah kehilangan tempat tinggal serta mata penceharian. “Bisa dilihat ada ratusan kepala keluarga yang terlunta lunta tanpa arah akibat penggusuran tersebut”.

Sehingga, baginya perlu kembali semua pihak mengingatkan Pemerintah Daerah Kabupaten Banggai agar peka serta mampu memberikan jalan keluar dari permasalahan yang tengah dihadapi rakyatnya.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Pemuda Muhamadiyah Kabupaten Banggai, Baharuddin L. Agi menegaskan, kondisi masyarakat Tanjung saat ini sangat memilukan, dan ini diperparah ketika pemerintah setempat tutup mata terhadap kehidupan mereka. “Bayangkan ada berapa ribu jiwa, mulai dari anak anak, lansia ikut menjadi korban ketika rumah dan pekerjaan para kepala keluarga hilang akibat pindah,” kata Baharudin yang karib disapa Bua.

Ia menjelaskan, sebagian besar profesi yang dilakoni warga tanjung sangat bergantung pada demografi tempat mereka bermukim, seperti nelayan, buruh pelelangan (ikan), buruh pelabuhan dan pedagang asongan. “Jadi setiap ada kapal ikan maupun kapal pelni, ini punya berkah tersendiri bagi mereka dan disesalkan Pemerintah Kabupaten Banggai tidak dapat memberikan solusi ketika mereka keluar dari ruang hidup yang ada di tanjung”.

“Ingat, masalah tanjung bisa menimbulkan kesenjangan sosial yang lebar, dan itu masalah besar” tutup Bua. (syf)

BACA: Soal eksekusi jilid II di Tanjungsari, Nasrun Hipan Ingatkan semua pihak

 

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan