NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

News Maker

Menuntut Transparansi Lifting Migas

Senin, 03 /08/ 2015 22:50:42 41323 Pembaca  

Bupati Banggai, Sofhian Mile bersama Menko Perekonomian, Dirut PT. Medco Energy, dan Dirut Pertamina.
Bupati Banggai, Sofhian Mile bersama Menko Perekonomian, Dirut PT. Medco Energy, dan Dirut Pertamina.

Saat Peresmian Mega Proyek Pertamina Terintegrasi, Menteri ESDM “Sudirman Said” bertempat di port Kilang Donggi Senoro LNG, Minggu (02/08), menyatakan bahwa saat ini SKK Migas sedang mengembangkan sistem transparansi mengenai pengolahan pada blok – blok migas di indonesia.

Sebelumnya Gubernur Sulawesi Tengah “Longki Djanggola” mengatakan “Pertamina tidak transparan dan sering tertutup dalam hal lifting minyak dan gas kepada pemerintah daerah penghasil” Kata Longki.

“Sekiranya pemerintah pusat bisa memperhatikan pemerintah daerah penghasil, agar bisa ikut dalam Participating Interest (PI) sebesar 10%, sebagaimana telah di atur pada PP No 35 tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, pasal 33. Minimnya APBD, menjadi kendala daerah penghasil untuk menanamkan saham”. Tambahnya.

Merespon persoalan transparansi lifting migas, "pak gubernur jangan khawatir, kami sedang mengembangkan sistem transparansi berbasis IT. Kalau Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) tidak memberikan data, maka bapak bisa mengakses di website SKK Migas". Ujar Sudirman Said.

Kurun waktu lima bulan, presiden Jokowi telah meresmikan lima project – project energi nasional. Setelah menghadiri peresmian pengapalan perdana Donggi Senoro Lng dan Groundbreaking pendirian tiang pancang PT. PAU, rencananya Jokowi juga akan meresmikan satu blok hulu minyak di Jawa Barat.

Dalam skema alokasi gas Donggi Senoro di gambarkan, PT.PAU, mendapatkan alokasi sebesar 55 MMSCFD dari Blok Senoro, sedangkan PT.PLN mendapatkan alokasi gas terkecil yakni sebesar 25 MMSCFD, dari blok Matindok 20 mmscfd dan Senoro 5 mmscfd.

Sedangkan PT.Donggi Senoro Lng yang merupakan perusahaan patungan PT.Mitsubishi dan Korean Gas (Kogas) mendapatkan alokasi gas sebesar 355 MMSCFD yang berasal dari  tiga blok, Senoro 250 mmscfd, Matindok 35 mmscfd, dan Donggi 50 mmscfd.

Berubah. Alokasi Gas ini berbeda ketika awal sejarah project donggi senoro lng, yakni gas donggi senoro akan di alokasikan untuk PAU (Pabrik Amoniak) (70 MMSCFD), PUSRI (91 MMSCFD), dan PLN (50 MMSCFD).

Semoga saja dalam rencana revisi UU No.21 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi bisa membawa angin segar kepada daerah – daerah penghasil minyak dan gas bumi. [ADJIE]

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan